Friday, April 08, 2011

Kita dan Mereka

“Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara” pasal 34 ayat(1) UUD 1945. Mungkin sering terdengar di telinga kita bunyi pasal yang seakan-akan pemerintah telah menjadi pahlawan tanpa aksi. Ya seperti pahlawan dalam film-film action yang membantu orang lemah dan teraniaya, yang hanya berperan dalam suatu skenario kebohongan yang tujuannya hanya menghibur. Saya tidak tahu pasti. Apa itu hanya jargon turun temurun yang diwariskan hanya sekadar menjawab peran pemerintah terhadap kemiskinan yang tak berarti apa-apa.
 
Saat kemiskinan penjadi pemandangan sehari-hari, saat anak-anak yang tak punya tujuan dalam hidup menjadi teman dalam setiap perjalanan kita di jalanan kota. Saat ibu-ibu dengan baju lusuh meminta-minta di pintu masuk warun-warung di perkampungan. Mereka tak punya pilihan.

Mungkin sudah sering kita lihat televisi yang mempertontonkan acara yang mengekspos kemiskinan suatu keluarga atau perjuangan hidup mereka yang berat, kita seakan iba melihatnya. Entah apa tujuan si produser membuat acara itu. Apakah mempertontonkan kemiskinan sebagai alat pendidikan atau hanya sebagai acara dalam rangka menaikkaan rating acara yang mengundang iklan-iklan dengan budget milyaran rupiah per detiknya.

Hal itu sudah cukup membuktikan bahwa peran pemerintah dalam pasal 34 ayat satu itu nihil. Pemerintah tak menjangkau kemiskinan yang ada di masyarakatnya. Jangankan yang ada dipelosok desa, yang kita lihat setiap hari bahkan tak tersentuh oleh tugas pemerintah. Ya, memang terlalu sadis menyudutkan pemerintah karena kelalainnya. Mungkin terlalu banyak tugas pemerintah yang harus ditanggung. Jika itu menjadi alasan, apa gunanya pemerintah? Apa gunanya departemen sosial? Apa gunanya pasal 34 ayat(1) UUD 1945?

Tapi itulah tugas pemerintah, fungsi pemerintah. Bukan kita tidak percaya, tapi kita hanya menuntut kewajiban mereka terhadap orang-orang yang tak tak punya pilihan lagi, karena mereka hanya memikirkan hidup mereka hari per hari, bukan untuk lima tahun kedepan atau sepuluh tahun kedepan bahkan.

Mereka itu miskin, tidak butuh dikasihani, tidak butuh empati dari kalian. Mereka hanya butuh pilihan dan uluran tangan kita. (diinspirasi saat melihat anak umur 7 tahun mengejar bus yang sedang berjalan cepat, untuk ngamen ). hgie

No comments: